Template Ini Merupakan Template Resmi Mahkamah Agung

. . . . . .

AKHLAK YANG MULIA ( Mimbar Mushalla 31 Januari 2020 Oleh Drs. Muslim Djamaluddin, M.H.)

31 Januari, 2020 | 11:41 am | Penulis |

ASSALAMU’ALAIKUM  WARAHMATULLAHI  WABARAKATUH

Segala puji syukur mari sama-sama kita panjatkan kehadhirat  ALLAH  Subhanahu Wa Ta’ala yang telah memberikan kesehatan dan kekuatan kepada kita sehingga kita dapat berkumpul di tempat yang mulia ini, Shalawat dan Salam tak pula kita sanjung sajikan kepangkuan alam Nabi Besar Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam , yang telah membawa kita dari alam kebodohan ke alam yang berilmu pengetahuan seperti yang kita rasakan saat ini.

Kata “akhlak mulia” berasal dari bahasa Arab, yaitu Akhlaqul yang berarti akhlak dan karimah yang berarti mulia. Jadi Akhlaqul karimah ialah akhlak mulia dan budi pekerti. Secara luas akhlak mulia adalah budi pekerti yang dicerminkan seseorang. Sikap yang menyimpang dari akhlak mulia sering terjadi, baik yang kita sadari maupun yang tidak kita sadari. Biasanya kita merasa sikap kita sudah benar dan menerapkan akhlak mulia. Namun, tanpa kita sadari ternyata sikap kita terhadap orang lain itu tidak menerapkan akhlak mulia. Dampaknya tidak hanya pada kita, tetapi juga pada orang lain.

Berakhlak dengan akhlak yang disyariatkan dalam Islam diantaranya;

jujur, amanah, bertanggung jawab, menjaga kesucian, malu, berani, darmawan, menepati janji, menjauhi semua yang diharamkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, berbuat baik kepada tetangga, membantu orang yang membutuhkan sesuai kemampuan, dan selainnya dari akhlak-akhlak yang tertera dalam Al-Qur’an dan sunnah yang dijelaskan tentang disyariatkannya akhlak-akhlak tersebut.

Akhlak yang baik adalah tanda kebahagiaan seseorang di dunia dan di akhirat. Tidaklah kebaikan-kebaikan datang atau didapatkan di dunia dan di akhirat kecuali dengan berakhlak dengan akhlak yang baik. Dan tidaklah keburukan-keburukan ditolak kecuali dengan cara berakhlak dengan akhlak yang baik. Maka kedudukan akhlak dalam agama ini sangat tinggi sekali. Bahkan Nabi kita Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika ditanya tentang apa yang paling banyak memasukkan seseorang ke dalam surga, beliau mengatakan:

تَقْوى اللَّهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ

“Bertaqwa kepada Allah dan berakhlak dengan akhlak yang baik.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah)

Juga beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّ مِنْ أَحِبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحْسَنُكُمْ أَخْلَاقًا

“Sesungguhnya di antara orang-orang yang paling aku cintai dan paling dekat tempat duduknya pada hari kiamat denganku yaitu orang-orang yang paling baik akhlaknya.” (HR. Tirmidzi)

Juga Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik.” (HR. Ahmad, Bukhari)

Juga ada banyak sekali hadits-hadits yang menjelaskan tentang keutamaan akhlak yang baik, juga tingginya kedudukan akhlak dalam agama ini, serta baiknya buah yang akan didapatkan oleh orang yang berakhlak dengan akhlak yang baik ketika di dunia dan di akhirat. Allah Tabaraka wa Ta’ala telah mensifati NabiNya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam Al-Qur’anul Karim dengan akhlak yang sempurna, akhlak yang agung dan akhlak yang baik. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ ﴿٤

“Dan sesungguhnya engkau berada di atas akhlak yang agung.” (QS. Al-Qalam[68]: 4)

Dan dahulu Nabi kita ‘Alaihish Shalatu was Salam adalah manusia yang paling baik akhlaknya, paling sempurna adabnya, paling baik pergaulannya, paling indah muamalahnya, semoga shalawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada beliau.

Beliau adalah contoh bagi seluruh hamba dalam segala akhlak yang baik, segala adab yang indah dan segala muamalah yang baik. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّـهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّـهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّـهَ كَثِيرًا ﴿٢١

“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah bagi kalian contoh yang baik bagi orang yang mengharap pertemuan dengan Allah dan  hari akhir dan mengingat Allah dengan dzikir yang banyak.” (QS. Al-Ahzab[33]: 21)

Bab akhlak dalam syariat Islam adalah bab yang sangat luas, tidak khusus dalam pergaulan sesama makhluk. Akan tetapi akhlak dan adab juga antara seorang hamba dan Tuhannya. Juga dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan akhlak juga di antara sesama manusia. Maka dari itu seluruh orang yang beribadah menyembah kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, berarti dia adalah orang yang paling buruk akhlaknya. Bagaimana mungkin, orang yang Allah Subhanahu wa Ta’ala ciptakan, Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan dia rizki, Allah karuniakan kepadanya begitu banyak nikmat, kemudian dia berdo’a kepada selain Allah, memalingkan ibadah kepada selain Allah.  Maka orang musyrik adalah orang yang paling buruk akhlaknya, karena kesyirikan adalah bagian dari akhlak yang buruk. Bahkan kesyirikan adalah seburuk-buruknya akhlak.  Jadi seseorang tidak boleh tertipu dengan pergaulan baik yang dilakukan oleh sebagian orang kafir. Karena hal itu mereka lakukan demi maslahat dunia dan tujuan-tujuan dunia. Mereka sama sekali tidak mengharapkan sesuatu di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala dan pahala pada hari pertemuan denganNya. Akhlak yang bermanfaat adalah akhlak yang dilakukan seseorang dengan mengharapkan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala agar ia mendapatkan surga dan derajat yang tinggi di akhirat nanti.

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّـهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا ﴿٩

“Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.” (QS. Al-Insan[76]: 9)

Bukan seorang yang berakhlak tapi mengharapkan balasan di dunia. Oleh karena itu Nabi kita ‘Alaihish Shalatu was Salam pernah bersabda:

لَيْسَ الوَاصِلُ بِالمُكَافِئِ

“Bukanlah orang yang menyambung silaturahmi jika sekedar membalas orang lain.” (HR. Bukhari)

Adapun orang-orang yang bergaul dengan manusia dengan akhlak yang baik akan tetapi dengan tujuan dunia, dia tidak akan mendapatkan dari dunianya kecuali apa yang telah dituliskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuknya. Dan dia tidak akan mendapatkan balasan di akhirat. Bahkan dia akan menemukan hal yang buruk disebabkan dia hanya menginginkan balasan dari orang lain. Karena diantara manusia banyak yang tidak mampu untuk membalas kebaikan bahkan tidak mampu membalas kebaikan dengan kebaikan. Diantara mereka ada yang akhlaknya sangat buruk. Apabila seseorang berbuat baik kepadanya, sebaliknya dia berbuat buruk kepada orang tersebut. Seorang yang baik adalah orang yang tidak menunggu balasan dari manusia jika dia berbuat baik kepada mereka. Akan tapi dia hanya mengharapkan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Oleh karena itu hadits-hadits yang menjelaskan atau menganjurkan untuk berakhlak dengan akhlak yang baik menyebutkan balasan akhlak tersebut akan didapatkan pada hari kiamat. Yaitu dengan dimasukkannya ke dalam surga atau mendapatkan derajat yang tinggi di akhirat nanti. Dan semakin baik akhlak seseorang karena ia mengharapkan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka akan semakin besar balasan dan pahala yang akan dia dapatkan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Karenanya, apabila seorang berakhlak tidak mengharapkan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala akan tetapi hanya mengharapkan tujuan-tujuan dunia, amalan tersebut tidak termasuk dalam amal shalih yang dia lakukan. Karena diantara syarat diterimanya suatu amalan adalah seorang mengharapkan balasan dan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Intinya, bahwasanya akhlak mempunyai kedudukan yang sangat tinggi di agama kita. Adapun sebagian dari akhlak yang baik yang sebaiknya atau seharusnya seorang Muslim bersifat dengan akhlak-akhlak tersebut, di antaranya:

JUJUR

Jujur adalah salah satu akhlak yang paling agung dalam Islam. Dan disebutkan dalam banyak ayat keutamaan orang-orang yang jujur.

Diantaranya firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّـهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ ﴿١١٩

AMANAH

Sifat amanah -bertanggung jawab-

Amanah mempunyai kedudukan yang sangat tinggi di agama kita. Allah ‘Azza wa Jalla menawarkan amanah tersebut kepada langit dan bumi. Maka semuanya merasa khawatir untuk memikulnya dikarenakan besarnya perkara itu.

Allah berfirman:

إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَن يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنسَانُ ۖ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا ﴿٧٢

“Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh,” (QS. Al-Ahzab[33]: 73)

Makna dari amanah secara umum adalah mencakup seluruh perkara agama. Karena Allah ‘Azza wa Jalla telah menciptakan hamba-hambaNya agar mereka beribadah kepadaNya dan Allah menciptakan mereka agar mereka taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan amanah ini wajib dilakukan oleh setiap manusia, wajib untuk dijaga, wajib untuk diperhatikan. Dan manusia terbagi menjadi tiga bagian dalam memikul amanah ini.

MENJAGA KESUCIAN

Menjaga kesucian yaitu dengan cara meninggalkan yang diharamkan, menjaga diri dari perbuatan dosa-dosa dan maksiat. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

وَلْيَسْتَعْفِفِ الَّذِينَ لَا يَجِدُونَ نِكَاحًا حَتَّىٰ يُغْنِيَهُمُ اللَّـهُ مِن فَضْلِهِ

“Hendaklah menjaga diri orang-orang yang belum mampu untuk menikah sampai Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan karunia kepadanya.” (QS. An-Nur[24]: 33)

Dan barangsiapa yang belum mampu untuk menikah hendaklah dia menjaga kesuciannya dan menjauhi perbuatan-perbuatan haram dengan niat ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan karena bertakwa kepadaNya. Adapun orang-orang yang tidak mempunyai harta maka hendaklah ia menjaga kesuciannya dan tidak meminta-minta kepada manusia. Dalam hadits disebutkan bahwa:

وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللَّهُ

“Barangsiapa yang menjaga kesuciannya maka Allah kan mensucikanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

MALU

Malu adalah akhlak yang sangat agung dan sifat yang sangat mulia yang hendaknya seseorang berakhlak dengan akhlak ini. Dan apabila seorang berakhlak dengan akhlak ini, akhlak ini akan menghalanginya dari seluruh perbuatan-perbuatan yang buruk dan mengantarnya kepada perbuatan-perbuatan yang baik. Karena sifat malu seluruhnya adalah kebaikan dan tidak akan mendatangkan kecuali kebaikan. Sebaliknya, apabila sifat malu ini hilang dari seseorang, maka kebaikan akan meninggalkannya dan dia tidak akan malu untuk melakukan keburukan apapun.

إنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلَامِ النُّبُوَّةِ الْأُولَى: إذَا لَمْ تَسْتَحِ فَاصْنَعْ مَا شِئْت

“Sesungguhnya diantara perkataan nubuwwah yang didapatkan oleh manusia yaitu: Jika engkau tidak malu maka kerjakan apa saja yang engkau inginkan.” (HR. Bukhari)

BERANI

Berani dalam tempatnya yang benar adalah kemuliaan dan kesuksesan. Adapun keberanian yang bukan pada tempatnya, itu adalah sifat ngawur dan kehancuran. Dan keberanian seorang Mukmin muncul dari keimanan dan keyakinannya kepada Allah ‘Azza wa Jalla serta kekuatan tawakkalnya kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala. Dia tidak takut kecuali kepada Allah, tidak meminta kemuliaan kecuali dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Berkata Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah bahwa keberanian akan membawa seseorang kepada akhlak-akhlak yang mulia, membuat dia dermawan. Karena keberanian jiwa dan kekuatan hatinya, ia rela meninggalkan apa yang ia cintai dan membuatnya meninggalkan apa yang ia inginkan. Maka kekuatan jiwa dan keberanian seseorang akan membuat dia meninggalkan hal-hal buruk yang dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Nabi kita Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِى يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

“Bukanlah orang kuat adalah orang yang kuat dalam bergulat, akan tetapi orang kuat adalah yang mampu menahan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Akhlakulm karimah merupakan cermin dari berbagai aktivitas ibadah kepaa Allah Subhanahu Wa Ta’ala, tanpa akhlakul karimah maka ibadah hanyalah sebagai upacara dan gerak-gerik yang tidak memiliki nilai dan manfaat apa-apa.

ASSALAMU’ALAIKUM  WARAHMATULLAHI  WABARAKATUH

Categorised in:

This post was written by msn

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »