Wakil Ketua Mahkamah Syar’iyah Banda Aceh Hadiri Pelaksanaan Uqubat Cambuk
Dipublikasi oleh ms bandaaceh | Tanggal 29 Januari, 2026 | Jam 2:05 pm | Kategori Berita | Jumlah Pembaca : 92 Pembaca
Banda Aceh, Wakil Ketua Mahkamah Syar’iyah Banda Aceh, Dr. Amir Khalis, menghadiri pelaksanaan uqubat cambuk terhadap pelanggar Qanun Aceh Nomor 6 Tahun 2014 tentang Hukum Jinayah yang digelar Kamis tanggal 29 Januari 2026, pukul 10.00 WIB hingga selesai Kegiatan tersebut berlangsung di Taman Bustanussalatin (Taman Sari), Kampung Baru, Kecamatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh. Pelaksanaan uqubat cambuk ini merupakan tindak lanjut putusan Mahkamah Syar’iyah Banda Aceh dan dilaksanakan oleh Kejaksaan Negeri Banda Aceh. Pada kesempatan tersebut, sebanyak enam orang terpidana menjalani eksekusi hukuman sesuai dengan amar putusan Mahkamah Syar’iyah Banda Aceh.

Adapun perkara yang dieksekusi meliputi:
H.A.B.H.K., perkara Zina dan Khamar Nomor 1/JN/2026/MS.Bna, dijatuhi uqubat 140 kali cambuk.
V.O.B.A., perkara Zina dan Khamar Nomor 2/JN/2026/MS.Bna, dijatuhi uqubat 140 kali cambuk.
A.R.B.M., perkara Khamar Nomor 42/JN/2025/MS.Bna, dijatuhi uqubat 45 kali cambuk.
A.B.W., perkara Khamar Nomor 43/JN/2025/MS.Bna, dijatuhi uqubat 55 kali cambuk.
T.R.A.B.A.S., perkara Ikhtilat Nomor 44/JN/2025/MS.Bna, dijatuhi uqubat 25 kali cambuk.
A.M.B.S.S., perkara Ikhtilat Nomor 45/JN/2025/MS.Bna, dijatuhi uqubat 25 kali cambuk.


Pelaksanaan hukuman berlangsung tertib, aman, dan lancar, serta disaksikan oleh unsur pimpinan, aparat penegak hukum, Satpol PP/WH, dan sejumlah masyarakat yang hadir. Proses eksekusi juga mendapat pengawasan ketat serta pendampingan tim medis, guna memastikan pelaksanaan berjalan sesuai prosedur hukum dan standar kesehatan. Dalam keterangannya, Wakil Ketua Mahkamah Syar’iyah Banda Aceh menegaskan bahwa pelaksanaan uqubat cambuk merupakan bagian dari penegakan hukum syariat Islam di Aceh yang wajib dijalankan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Ia berharap, hukuman tersebut dapat menjadi pelajaran dan peringatan bagi para terpidana serta masyarakat luas. “Uqubat dalam hukum jinayah tidak semata-mata bertujuan memberikan efek jera, tetapi juga untuk menjaga ketertiban umum dan menegakkan nilai-nilai syariat Islam di Aceh,” tegasnya.
Dengan terlaksananya kegiatan ini, penegakan hukum jinayah di Aceh diharapkan terus berjalan secara konsisten, profesional, dan berlandaskan asas keadilan.(Myq)


